Teori

Baru saja ketika saya sudah makan siang di sekitaran Jalan HM. Thamrin (dekat Jl. Bontolempangan, Makassar) seorang Ibu Tua beretnis China, mengeluarkan lembaran berjumlah Rp 15.000,- kepada tukang parkir, meski tidak diminta.

***
Sebelumnya, saya menyaksikan sendiri dua orang wanita dari keluarga itu (saya lihat dua wanita dan seorang ibu di dalam mobil) turun memesan soto ayam di warung tempatku makan.

Mereka rupanya makan siang di atas mobilnya. Tidak butuh waktu lama, sekitar 10 menit, terdengar suara perempuan dari dalam mobil yang sedang ter-parkir di belakangku.

"Mas, ini mangkuknya."

Si penjual pun dengan sigap menuju mobil itu lalu menerima bayaran dari beberapa mangkuk soto ayam yang dipesan pembeli.

Begitu setelah dibayar, dia memanggil salah seorang bapak tua yang kebetulan berdiri di belakang mobilnya. Lalu sang ibu mengeluarkan dua lembar uang, pecahan Rp 10.000,- dan Rp 5.000,-. Seketika seorang bapak itu menyodorkan tangan kanannya ke arah kaca mobil belakang sebelah kiri dengan gaya agak membungkuk.

Lalu, pengendara mobil langsung pergi dan bapak itu pun pergi. Saya yang menyaksikannya dengan jarak lima meter itu langsung merasa sedih sekaligus heran. Pasalnya, sang ibu tua di dalam mobil itu mampu memberikan duit 15.000 rupiah secara cuma cuma kepada seorang lelaki yang tak dikenalinya. Tanpa pamrih, dan tanpa ada embel embel sedikitpun.

Pikiran saya langsung terbawa pada realitas di sekitarku. Sepertinya ada yang salah dengan apa yang diajarkan oleh guru di sekolah dan buku buku agama yang kubaca selama ini (termasuk membaca pendapat pendapat publik di media sosialnya terkait peristiwa yang hangat belakangan ini mengenai konflik SARA di beberapa tempat).

Kekurangan yang kucatat adalah dari kecil, kami banyak diajari hanya berbuat baik berdasar teori. Bahwa setelah melakukan ini, akan dijanji mendapat ini. Bahkan akan mendapatkan surga yang entah kata "surga" itu menggambarkan sebuah ke-abstrak-an yang nyata.

Mana ada seorang anak kecil yang tak tahu apa apa, diajari untuk membayangkan sesuatu yang tidak jelas.

Di lain sisi, orang orang barat (misalnya), begitu mengaplikasikan seluruh perbuatan baik di sekitarnya. Menyentuh person manusianya. Dan menghasilkan perubahan yang nyata serta dapat dirasakan.

Mulai dari persoalan kesehatan seperti membuang sampah pada tempatnya, orang orang barat di dalam dirinya sudah tertanam pendidikan untuk berperilaku sehat dan bahwa membuang sampah di sembarang tempat merupakan perilaku/tabiat orang "kotor". Mereka sedari kecil sudah ditanamkan pentingnya kebiasaan dan pola perilaku yang dapat timbul atasnya.

Saya tidak ingin berpanjang lebar di sini, jangan sampai tulisan ini hanya akan menjadi sesuatu seperti pada judul. Untuk itu kesimpulan dari masalah ini saya pendekkan dalam satu kata:

Kebiasaan.

Makassar, 13 Desember 2017

Comments

Popular Posts