Mengikatkan Budaya Pada Anak anak

Hampir saja saya lupa menulis. Sesuatu di dalam kepala jika tak dituliskan akan berefek jadi susah tidur. Bukan susah move on ya. Kamu sih, dikit dikit, baper. Simpan dulu perasaannya gaes, jangan dibawa terus!

Oke untunglah, meski saya harus aktif di beberapa dunia, dunia fesbuk, dunia instagram, dunia twitter, dunia linkedIn, dunia blog dan dunia nyata yang tak berkesudahan memberi masalah, saya masih ingin meluangkan waktu untuk menulis. Meski sedikit saja.

Ide yang ingin saya tuliskan malam ini terinspirasi dari ceramah yang dibawakan oleh Camat Somba Opu, di masjid dekat rumahku, pada malam ke sebelas ramadan, 6 Juni 2017. Ya, tepat, kemarin.

Namanya Pak Subair, Camat baru di Somba Opu Kabupaten Gowa. Ia berpesan kepada masyarakat bahwa, saat ini yang penting adalah memperkenalkan kembali budaya yang kita miliki kepada anak anak. Ya, tentu ini adalah hal penting. Mengapa ini penting? Sebab, budaya daerah kita mulai hilang, perlahan demi perlahan. Kira kira begitu maksud ucapannya.

Kita selaku orang dewasa, beh maksud saya, sebagai pemuda, yang pernahmendapat pendidikan karakter budaya langsung dari orang tua sewaktu kecil dan juga pelajaran dari guru sekolah dasar, harusnya mengeksplorasi ilmu itu lalu mengajarkan kepada anak anak di zaman ini. Seperti contohnya. Budaya tabe' atau mappatabe' (permisi).  Budaya menurunkan tangan sebelah ketika lewat di hadapan orang yang lebih tua dari kita ini, pelan pelan mulai tidak dipraktekkan lagi di lingkungan anak anak. Wah wajar, mereka sudah hilang contoh!

Selanjutnya, budaya apalagi yang mesti deberdayakan selain seperti contoh di atas?
Temukanlah.

Source : http://bucultureshock.com

Comments

Popular Posts