Ban Bocor dan Hari yang Mahal



PUKUL tiga sore pada Senin 15 Mei 2017, aku menyelesaikan tugas wajib kuliah yang tidak kelar kelar sejak 12 April silam. Aku memang demikian, malas mengerjakan tulisan ilmiah seperti skripsi. Draf yang sudah empat minggu lebih, akhirnya di-Acc oleh pembimbing satu, hari ini, tanpa melalui proses penyuntingan panjang. Barangkali kamu menyebutnya dengan istilah "pantul." (Entah dari mana istilah itu berasal; pantul bermakna corat coret yang diberikan oleh pembimbing).

Bukan hal mudah untuk hari ini. Awalnya aku merasa pesimis. Bagaimana tidak, sudah pukul sebelas siang, di hari yang sama, aku baru memulai memperbaiki draf itu. Lalu selesai pukul dua siang. Kemudian aku memperbaiki printer, selama kurang lebih dua jam (maklum nggak punya duit buat nge-print tugas di warnet atau tempat fotokopi, jadi printer yang sedang rusak mau tidak mau harus diperbaiki).

Setelah berusaha, dan akhirnya bisa, meski harus di-high printer-nya. Selanjutnya saat sedang asyik nge-print, di halaman 16. Eh, kertasnya malah habis!

Lalu saya cari jalan buat dapatkan kertas.

Ke tetangga, tidak berhasil.

Cari duit di kantong celana di kamar, akhirnya nemuin tiga ribu rupiah. 

Pukul tiga sore, sedang hujan rintik rintik.

Menuju tempat fotokopi, antri lagi. Setelah dapat kertasnya, balik deh ke rumah.

Lalu kertas dimasukkan ke ruang kertas di printer. Dilanjutkanlah prosesnya.

Mencetak berjalan dengan baik. Tiba tiba...

Tiba tiba...

Setelah usai di-print, pada halaman dua puluh tiga. Eh, nemu kesalahan (lebih tepatnya ada kata yang kurang pada judul yang terletak di halaman satu).

Kembali ingin memperbaiki halaman satu,

Malam mati lampu, segala.

Oh Tuhan (kucinta dia).. :D :D.

Jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh. Setelah salat ashar, aku langsung tinggalkan laptop dan listrik padam. Sebelum pergi, eh lampunya udah nyala. Aku tetap meninggalkannya. (Barangkali begitulah mantan, kalau dia udah bilang putus, lalu ingin kembali lagi, serius, aku itu akan menganggapnya seperti listrik. Titik, tinggalkan).

Hujan di luar belumjuga  reda. Tapi aku harus ke kampus, meski tak kuyakin pembimbingku masih ada di kampus. Karena sudah hampir pukul empat sore. Perjalanan pun dimulai, dengan sendal jepit. Sepatu disimpan di dalam bagasi motor, jas hujan hitam pun sudah kukenakan dengan baik.

Tiba di kampus, hujan sudah agak reda.

Aku lalu membuka jas hujan, dan tak lupa kuambil dua buah buku dari dalam bagasi motor yang sejak tadi kubawa untuk kukembalikan di perpustakaan fakultas. Tak lupa, kubawa draf, barangkali aku ketemu dengan dosen pembimbingku, kan..

Ke lantai tiga dulu. Ya, kamu harus ingat, tadi saya kan ke kampus pakai sendal, jadi sepatunya di bagasi motor itu? Tentu, sudah kuganti sebelum masuk ke pintu belakang fakultas. Masa' iya aku kelihatan nggak rapi di depan dosen. :P

Lanjut, aku ke lantai tiga, ruangan perpus. Dan... si*l, pintunya udah tutup! 

Besok pasti aku kena denda, pikirku. Hah. biarlah, santai aja. Hh.

Lalu ke ruang jurusan, turun satu tangga. Masuk ke ruang jurusan, tengak tengok. Dan..

Ketemulah aku dengan pembimbing satuku yang rupanya belum pulang. Tapi sebenarnya sudah siap siap sih untuk pulang. Aku segera memperlihatkan drafku. Kukatakan bahwa ini draf sudah kuperbaiki dengan matang, kutambahi ayat alquran, kutambahi referensi buku, kuatur jarak spasi antar baris. Serta coretan pada saat seminar draf tanggal 12 April itu.

Ya, ada satu yang berbeda. Ini kali pertamaku membawa draf ke pembimbing, sejak seminar telah kulaksanakan. Dan apa yang kudapat?

Acc.

Dosenku segera menulis catatan di halaman pertama drafku, 

"Acc. Dapat dilanjutkan, 15/5/2017."

"Yes," gumamku dalam hati.

Akhirnya aku tidak sia sia ke kampus, pikirku lagi.

Tapi..

Pas tiba di motor, mau pulang, kulihat ban motorku. Dan yah.. aku menemukan ada satu paku kecil yang tertancap di sana.

                                            

Sebelum kucabut, tak lupa aku mengabadikannya. Tujuannya? Ya, buat dokumentasi. Sebenarnya dari sinilah ide untuk menuliskan catatan sederhana ini. Aku ingin membuat dokumentasi gambarnya agar kamu bisa percaya, bahwa aku yang tengah berusaha sebaik mungkin ke kampus, harus menemui banyak cobaan.

Ya, setelah itu pakunya aku cabut. Dan kupakailah motor hingga pulang ke rumah. Dalam keadaan kempes, tentunya. Aku pikir, di dekat rumah (jarak kampus ke rumahku, sekitar 15 menit perjalanan naik motor), ada tukang tambal ban yang bayarannya cukup dengan isi kantongku. H.h. (kamu pasti pikir jumlah duitku, kan.. ayo jujur.. )

Setalh itu aku pulang, dan tiba di bengkel. Aku harus mengeluarkan duit 35 ribu.

(Jangan tanyakan darimana asal duit itu) 

Ngutang!


Ya, lumayan mahal untuk hari ini. Sekian sajalah!

Motor yang Kotor :-D



Comments

Popular Posts