MgP MgP Author
Title: Di Dua Pekan Ini Aku Berjalan
Author: MgP
Rating 5 of 5 Des:
Cerita ini merupakan suatu pesan dari seorang penulis atas kejadian “beda” yang baru Ia rasakan beberapa waktu silam. Hal ini bermula sek...
Cerita ini merupakan suatu pesan dari seorang penulis atas kejadian “beda” yang baru Ia rasakan beberapa waktu silam.

Hal ini bermula sekira dua-tiga pekan yang lalu. Ketika semangat untuk menulis buku sudah berambisi melewati batas metamorfosis diri yang sebenarnya.

Ketika itu, ada banyak inspirasi yang datang tiap hari. Entah dari mana datangnya. Mungkinkah itu datang dari perasaan “lapar” yang terjadi pada tubuh mungil nan kurus ini ?, entahlah, aku tidak tahu.

Beberapa hari yang lalu, sampai hari ini pun aku masih merasakannya. Perasaan yang baru hinggap di benakku. Sungguh bulan april meninggalkan diriku yang penuh sejarah dan tanda tanya. Aku berusaha menalarkan, mencari setitik hikmah yang terjadi disetiap laku hidup yang ku alami.

Baik dari awal mula perasaanku-puncak perasaan ku-hingga diakhir surutnya perasaanku.

Maka, sebelum perasaan itu hilang ditelan masa dan dimakan rayap pelupa, maka kutuliskan perasaan itu pada kerta ini. Hanya untuk mendeskripsikan dengan jelas apa sebenarnya yang terjadi pada hati.

Jika aku berkata (berbicara, mengeluarkan suara), bisa saja ada kata dusta yang terselip di dalamnya, karena tidak semua dapat dikata benar jika hati tidak konstan berada pada ihwal (tempatnya) nya.

Maka kutulislah disini, dengan harapan penuh, akan ada hati yang tetap bersemayam dalam diri penulis, sehingga apapun yang tertulis itu bisa menjadi refleksi dari hati ini. Aku tak dapat mengatakan ini suci dan sejati. Tapi, hatiku ini yang akan menjawabnya, memberikan informasi kepada pembaca. Dan aku yakin, hati Anda pun akan peka dalam membaca pesan ini jika ini benar ungkapan dari hati.

***

Disaat diri punya keinginan besar, namun terhalang oleh hati. Apakah ini benar dari hati ?, tanyaku sampai detik ini.

Sering aku mengalami keterpurukan materi, bahkan hingga detik ini. Tak sepeserpun uang receh apalagi uang kertas yang aku pegang. Bahkan untuk makan pun, aku tak mampu membeli, dari mana aku mendapatkan uang, jiwaku berkecamuk.

Disaat orangtua dirumah juga mengalami diferensiasi (keterbatasan) dana untuk mengirimkan biaya kepada anaknya. Disaat mereka pun sampai-sampai rela meminjam disana-sini untuk mendapatkan rupiah demi sesuap nasi, demi membiayai kebutuhan sehari-hari yang memaksa untuk dipenuhi.

Sering aku berkomunikasi dengan mereka, perihal kedaannya, sering pula aku meminta sedikit dana untuk kupakai makan barang satu hari, namun alhasil: tidak ada sama sekali.

Aku tahu masalah mereka, gaji yang
sebelumnya didapat, kini belum hinggap ditangan mereka bahkan sampai tulisan ini kubuat, belum jua “uang” itu berada pada mereka, entahlah, dimanakah keberadaan “uang” yang seharusnya mereka miliki.

Bahkan uang yang sudah dijanjikan untuk dipinjam, juga susah keluarnya. Sehingga, dalam beberapa waktu ini, aku sangat merasakan zaman paceklik seperti masa zaman Umar Bin Khattab. Ketika penduduknya rela mencuri untuk dapat makan. Karena apa ?, karena hanya dengan jalan mencuri, ia dapat makan untuk keberlangsungan hidupnya.

Aku mempunyai dua kartu ATM. Sekali waktu aku mencoba datang ke atm itu untuk menarik beberapa lembar kertas yang aku pikir sudah terisi, entah siapa yang mengisinya, aku pun belum tahu. Ku harap orangtua yang sebelumnya sudah kuberi tahu untuk mengirim, dapat segera melaksanakan kebutuhan anaknya yang lagi “lapar” saat itu.

Namun, ketika sudah di depan pintu atm, maka segera ku masukkan kartu atm-ku yang satu kedalam lubang kartunya, ku pencet password, tanda rahasia sebelum memencet tombol selanjutnya, kemudian setelah itu, ku cek jumlah saldonya, alhasil nampaklah kata-kata yang sudah kuduga dari awal, “maaf Saldo anda tidak mencukupi.”

Meskipun awal nya aku yakin bahwa akan ada dana yang masuk, namun tidak sepenuhnya keyakinan dapat merubah hal yang benar-benar mustahil.

Berhari-hari ku lalui segala tindak tanduk kegiatanku, serta kesibukanku yang menuntut untuk kupenuhi demi amanah yang telah dibebankan pada pundakku. Di bulan april silam hingga di awal mei ini, aku seakan berada pada puncak pemberian tanggungjawab yang besar. Bukan cuma satu atau dua amanah, akan tetapi ada tiga hal “pekerjaan besar“ yang aku wajib pikir sekaligus, namun tiga hal itu, terbagi lagi kedalam beberapa sub hal. Dalam sub hal itu pula terdapat beberapa manusia-manusia yang hidup didalamnya untuk senantiasa di kordinir.

Di satu sisi, aku diberi amanah pada peringatan milad ukm ldk (LDK Al Jami, organisasi intra kampus yang ku ikuti sejak awal tingkat duaku) untuk menjadi ketua panitia (sering disingkat: ketupat). Sungguh ini bukan perkara yang mudah, karena sejak awal pembentukan panitia, aku yang langsung ditunjuk oleh senior di lembaga itu untuk menjadi ketua panitia. Maka dengan perasaan sedikit sedih dan lemah, maka aku mencoba menerimanya. Karena aku menganggap bahwa ini adalah amanah buatku yang harus aku jalani. Disini aku tidak meminta (jabatan) ini, maka aku yakin Insya Allah ada kuasa-Nya yang senantiasa menolong hambanya. Sungguh makna dari kata layukallifullahu nafsan illa wus aha, tiba-tiba lewat melalui lembaran-lembaran hatiku yang merasuk pada relung jiwa dan alam pikirku.

Maka sejak kuterima amanah itu, maka dengan resmi aku mencoba belajar untuk memimpin rapat dan mencoba memberikan kontribusi dalam kegiatan yang berlangung selama lebih dari 32 hari itu.

sungguh bukan waktu yang singkat dalam ber-kegiatan, karena amanah yang kudapat di tempat lain juga ada. Jika dalam kepanitiaan ini, aku bukan hanya bekerja sendiri akan tetapi banyak dibantu oleh banyak kader dari ldk (oraganisaiku), baik yang junior maupun yang sudah senior. Di lembaga inipun aku merasa masih junior, karena pengkaderan yang paling terbaru dilaksanakan ialah pengkaderanku (bernama, SIC XVII).

Kegiatan puncak yang akan kami langsungkan ialah menghadirkan seorang penulis terkenal di Negeriku yang karyanya sudah banyak di baca oleh orang-orang serta buku yang ditulisnya pun sudah banyak yang telah diangkat ke layar lebar, dialah ASMA NADIA, yang baru-baru ini karyanya yang berjudul “Assalamu alaikum Beijing” diangkat ke layar lebar dan di tonton oleh berjuta-juta masyarakat di Negeriku, dan ternyata baru aku sadar bahwa di kotaku (Makassar)-lah yang paling banyak orang menontonnya. Hal ini di ungkapkan secara langsung oleh Asma Nadia, didepan peserta seminar dan bedah bukunya,”assalamu alaikum Beijing”, di auditorium kampusku, selasa 5 mei 2015.

Pemateri atau narasumber yang dalam kegiatan ku ini bukan hanya satu orang saja, akan tetapi ada satu lagi sosok yang sangat kharismatik, seorang pakar pendidikan di Kota Makassar, yang baru-baru ini buku yang telah ia tulis berjudul “Pemimpin Cinta”, telah dan masih di bedah di beberapa daerah di Indonesia.

Aku sempat mendengar bahwa penulis yang merupakan kepala sekolah dari sekolah Islam swasta di Makassar itu baru-baru ini membedah bukunya di pulau Sumatera, kemudian lanjut ke pulau Jawa hingga di beberapa kota di pulau sulawesi. Dia merupakan seorang pemimpin dengan tempramen yang beda dengan pemimpin yang lain.

Jika pemimpin yang lain suka cuek kepada anggota yang dipimpinnya, maka Ia dengan sikapnya, selalu dinanti-nanti kedatangannya, bahkan aku sempat mendengar Ia di panggil “Ayah” oleh siswa di sekolahnya. Ia juga disenangi oleh tukang bersih-bersih di sekolahnya, serta semua pekerja yang ada di sekolahnya. Sungguh pemimpin masa depan yang dinanti. Namanya, Edi Sutarto, sang pemimpin cinta.

***

Di lembaga yang lain pula (dalam waktu yang sama), aku menjadi dewan redaksi yang bertugas sebagai editor sekaligus sebagai reporter pelaksana harian yang bertugas dalam lingkungan kampusku. Lembaga pers kampus ini baru dibentuk oleh mahasiswa di fakultasku, serta semangat dari kami (beberapa peng-inisiasi lembaga ini) akhirnya lembaga ini mendapat respon positif dari pimpinan fakultas, sehingga Surat Keputusan (SK) kemudian diberikan dengan mudah oleh pimpinan (dekan dan wakil dekan) serta dari seluruh pembina dan dosen-dosen kami yang memberikan naungan kepada mahasiswanya untuk terus berkreasi untuk mewujudkan tujuan dari lembaga ini dibentuk. Yakni sebagai ajang media publikasi segala kegiatan-kegiatan yang ada di fakultasku, pada khususnya dan di kampusku pada umumnya.

Lembaga ini bernama, LISH (Lembaga Informatika Syariah dan Hukum) yang pada 1 April silam, telah melaunching salah satu bukti real medianya yakni sebuah buletin. Meskipun tampak sederhana dan serba kekurangan, namun kami para anggota lish sudah mendapat apresiasi dari pembina, pimpinan fakultas dan beberapa dosen. Namun, tugasku di lembaga ini belum selesai dan tidak akan pernah selesai dua-tiga tahun saja, namun akan berlanjut terus hingga media ini “bubar.”

Karena lembaga ini nantinya akan menerbitkan sebuah tabloid kampus yang akan disebarkan ke masyarakat kampusku pada khususnya dan kepada instansi pemerintahan yang terkait dengan kampusku, pada umumnya.

Mulai dari pencarian berita, edit berita, memberi masukan dan koreksi kepada pimpinan redaksi, hingga bertugas sebagai “tukang print” yang telah melekat di pundakku di bulan april silam atas tanggungjwabku di lembaga informatika ini.

Lembaga ketiga yang juga aku ikuti prosesi kegiatannya di bulan april ini yakni aku harus berada di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), sebuah lembaga internal yang ada di jurusanku. Disini aku bertindak sebagai koordinator bidang keilmuan dan penalaran. Sehingga dalam rapat-rapatnya, aku pun harus hadir didalamnya. Karena program kerja harus cepat terlaksana dalam setiap bulannya.

Disisi yang lain, masalah pun sering aku dapat, seperti masalah “hati” yang lagi kumat dan susah tertahankan sedang beradu dalam relung jiwa yang dalam, terus berkompromi untuk mengalahkan satu sama lain, sehingga pada akhirnya ada satu pihak yang berhasil ditunjuk untuk menemaninya. Namun disisi yang lain ada pihak yang harus di tinggalkan. Begitulah sistem hati. Tak akan ada dua hati yang dapat bersemayam pada satu hati. Harus (hanya) satu banding satu (1 : 1).

Di lain hal, aku sempat diberikan ujian yang berat, karena alat komunikasiku yang sudah lama (sekitar satu tahun) aku gunakan untuk mencari informasi dan menuliskan informasi, tiba-tiba hilang. Entah dimana Hp itu tercecer. Prasangka pun bermunculan, spekulasi itu dan ini terus bergejolak namun tidak lama. Aku langsung mengikhlaskannya, dan segera merasa bahwa ‘itu’ sudah bukan milikku, sehingga harus di ambil oleh orang yang mendapatkannya.

Namun, takdir berkata lain, tadi pagi (6 Mei), aku ditelpon oleh nomor yang tak ku kenali. Ia lalu berkomunikasi denganku, ia yang mulai membuka dengan pertanyaan tentang siapa Aku (namaku), “namamu siapa?”, “Galang,” jawabku. Lau ia melanjutkan maksud menghubungiku dengan mengatakan apa adanya tentang dirinya dan apa sebenarnya yang terjadi. “Aku Hermin, Aku menemukan hp kamu yang hilang. Sekarang temui aku di rektorat, ambil hp ini, tanyakan saja kepada security yang namanya hermin.”

Ternyata, takdir telah berkata lain, setelah aku bersigap untuk menemui orang yang tadi menelponku, langsung aku mencarinya direktorat lantai 1, tempat yang ia janjikan untuk bertemu, akhirnya aku bertemu juga dan segera memberikan hp ku itu dan menceritakan sebagaian dari kisahnya bersama hp biru ku itu.

Sungguh ternyata masih ada sesosok manusia seperti Hermin, walau dia hanya sebagai security di kampusku, namun kejujurannya pantas di apresiasi. Karena hp ku itu bukan hilang dua atau tiga hari, akan tetapi sudah hilang selama dua-tiga minggu.

Aku percaya dengan alasan yang dikeluarkannya, bahwa hp itu terlalu susah untuk di cas (di charger) karena sulitnya menemukan perangkat (untuk men-cas) yang pas.

Kemudian baru setelah hp itu aktif, ia kemudian mencari nomor kontak yang bisa dihubungi, kemudian ia mendapatkan nama kontak, “My Mother”, kemudian ia menelponnya, dan mencoba mencari kebenaran tetntang siapa si empunya hp itu (Saya), maka ia langsung menelpon ibuku dan mencari tahu siapa namaku dan berapa nomor teleponku, akhirnya tak lama kemudian ia mendapat informasi tentangku dari ibuku di kampung melalui telepon seluler yang ia miliki.

Aku bangga dan bersyukur telah mendapat banyak hikmah dari kejadian itu. Padahal, sebenarnya hilangnya hp itu pun tak pernah aku kabarkan kepada orangtua dirumah dan keluargaku yang kutinggali. Hanya beberapa teman terdekatku saja yang mengetahui perihal hilangnya hp yang saya taksir harganya sekitar satu setengah juta itu.

Dalam kehilangan itu, ada makna yang terkandung bahwa, kita sebenarnya tidak boleh takut dengan hilangnya barang kepunyaan kita, karena masing-masing akan ada gantinya. Entahkah dalam bentuk yang sama dengan sesuatu yang hilang itu ataukah bentuk lain, baik itu berupa rezeki pada hal tertentu ataupun suatu barang lain yang lebih berharga dari yang hilang itu.

Dalam kehilangan itu pula, kita diajarkan untuk senantiasa ikhlas dalam ber-perilaku. Santun dalam berbuat dan senantiasa dapat berpikir positif kepada orang lain serta tetap sabar dan banyak berdoa, karena yakinlah Allah akan mendengarnya dan menyaksikan hamba-hambanya yang berdoa.

Kembali lagi, bulan April penuh makna. Sekira satu-dua minggu terakhir di bulan april hingga di awal mei ini, aku masih belum punya uang sama sekali. Terkadang aku masih melalukan hal yang sebelumnya sudah aku lakukan yakni mendatangi ruang atm kemudian mencoba memasukkan kartu ku, akan tetapi hasilnya tetap zero (nol), tidak dapat ditarik karena kekurangan saldo. Begitupun di rekeningku yang satunya lagi, juga (masih) bertuliskan demikian, ”maaf saldo anda....”

Aku hanya bisa bersabar dan bersabar. Sehingga dalam beberapa hari, aku sempat melaksanakan puasa sunnah, senin, kamis. Jujur, bukan hanya karena melaksanakan sunnah rasulullah, akan tetapi aku berpuasa karena aku sudah tak punya biaya untuk menyanggupi kebutuhan yang harus aku keluarkan untuk membeli sebuah makanan.

Di tambah lagi, ketika motorku juga mengalami keterpurukan bahan bakar alias bensinnya yang habis. Sehingga pada waktu akhir aku gunakan motor itu ke kampus, bensinnya habis tepat di tempat parkir depan fakultasku. Aku hanya menyimpannya hingga sore minyingsing memperlihatkann jingganya kepada seluruh alam.

***

Kemudian, beberapa hari (sekira satu minggu lebih), motorku tinggal di rumah kost temanku, karena tak mampu berjalan layaknya manusia yang tinggal tubuh tanpa nyawa. Aku pun tak tahu harus memberikannya apa, karena ia hanya butuh makanan (bensin) dan untuk mendapatkan makanannya itu aku harus merogoh kocek. Namun sampai detik ini aku pun masih belum punya. Rekening ku pun sudah bosan untuk ku datangi, karena tak pernah memebri kejelasan atas perihal maksudku mendatanginya. Aku selalu merasa “digantung,” hingga hanpir tercekik mati, sedih ketika aku berbalik meninggalkan sang atm yang sudah menungguku, namun belum mampu memberi jawaban. Namun, kuharap di hari-hari yang akan datang, ada keajaiban yang merasukinya, sehingga ketika aku datang untuk menjumpainya, ia akan memberikan jawaban. Jawaban sejati yang aku tunggu-tunggu, yakni kejelasan adanya benih-benih uang dalam mesinnya yang bisa segera ku tarik untuk kupakai hidup.

Ketika uang tak pernah ada di tangan, motor tak bisa ku kendarai, bahkan aku pernah berjalan dari kost temanku, yang jaraknya lumayan jauh, berjalan disiang bolong untuk dapat menuju kampus ku.

Serta, karena tidak adanya “alat tukar” yang kupunya untuk menadapatkan harga makanan yang pas, aku pernah dan biasa untuk merasakan perihnya di perut karena kelaparan, bahkan kebiasaan itu pula yang membuatku menjadi biasa dan merasakan bagaimana jadinya orang yang biasa. Mungkin inilah namanya orang sederhana ataukah orang yang saangat sederhana, karena makan pun tak selalu bisa. Hanya satu kali makan dalam sehari itu pun terkadang hanya kue atau gorengan semata yang di konsumsi bersama teman-temanku.

***

Pentingnya kehadiran seorang teman atau banyak teman sangat kurasakan ketika zaman paceklik yang aku hadapi saat ini. Ketiak pada zaman sahabat nabi, ada masyarakat yang rela mencuri karena tak punya uang, namun aku belum bisa mengatakan aku separah orang dulu, karena saat ini masih ada manusia yang bagaikan malaikat yang telah diberikan oleh Allah untuk membantu perihal kebutuhan makan ku dan perihal transportasiku sehari-hari.

Walaupun aku tak punya uang, namun sering aku makan bersama dengan mereka, teman baikku. Ada sahabatku di kelas yang senantiasa bersamaku, baik dalam kampus maupun di luar kampus, karena harus menginap dirumahnya. Ada juga seseorang yang turut memerhatikan makanku secara diam-diam dan pernah sekali-dua kali waktu, ia membelikanku makanan, karena ia tahu aku belum makan dan lagi sangat lapar saat itu. Alhamdulillah ia datang mem-bawakan makanan di tengah kesibukanku mengurusi hal-hal yang sudah kujelaskan semua pada awal pesan ini.

Namun, terkadang masih ada saja orang yang sering menanyakan perihal keuanganku, kapan uangku ada, kapan aku bisa sebaliknya: membelikan mereka dan kapan aku dapat berkontribusi lewat uang. Tetapi, aku hanya bersikap sabar menghadapi mereka. Karena aku merasa ia adalah tetap teman baikku yang senantiasa bersamaku dan akan membantu disaat-saat sulitku seperti saat ini.

***

Dalam kebutuhanku yang sangat, dalam ketidakpunyaanku, aku masih sadar, aku masih mempunyai Tuhan, Allah SWT yang senantiasa aku tempati untuk curhat. Mencurahkan segala permasalahan-permasalahan duniawi yang aku hadapi lewat doa-doa dan shalat ku.

Aku terus sabar. Karena aku yakin dibalik hari yang sulit ini, akan tiba hari lain yang akan menggantinya dengan suatu kebahagiaan, aku yakin penuh akan hal ini. Aku serahkan semuanya kepada Allah melalui ikhtiar dan doa yang senantiasa ku kerjakan.

Orientasi pada satu titik. Apapun yang kita kerjakan, harus senantiasa di tujukan untuk Allah. Oleh karena itu, setiap awal waktu melakukan sesuatu, kita harus senantiasa mengingatnya, sehingga Ia dapat hadir dalam niat kita. Karena sesungguhnya, yang dinilai nanti adalah dari apa niat kita sebelumnya. Maka ucapkanlah bismillahirrahmanirrahim pada setiap awal pekerjaan mu melakukan sesuatu. Insya Allah semua akan mendapatkan ridho dari-Nya dan terhitung sebagai ibadah di Sisi-Nya. Bukankah kita hidup di dunia ini dan juga tujuan awal penciptaan kita adalah hanyalah untuk beribadah-mengabdi kepadaNya, wama khalaktul jin(na) wal ins(a) illa liya’buduun.

***

Terakhir, disinilah mungkin apresiasi terbesar yang aku dapat dari ini semua. Aku mengatakan mungkin, karena bisa saja nanti setelah aku tulis pesan ini masih ada apresiasi yang akan ku dapat. Sungguh, aku hanya berharap bahwa rahasia Allah itu ada dan akan terbuka jika ada yang benar-benar meninginkan untuk membukanya dengan cara memintanya, hanya kepada-Nyalah berharap dan memohon pertolongan, iyya kana’ budu wa iyya kanas ta’in.

Pada hari selasa siang hingga sore hari, tanggal 5 Mei 2015 (kemarin). Bertempat di gedung auditorium kampus 2 UIN, Samata Gowa, ketika ku bacakan doa kelancaran bicara, rabbisrahli sadri wayassirli amri wahlul uqdatam min lizani yafqahu qauli, serta atas latihan yang kulakukan sebelumnya, ketika aku membacakan laporan ketua panitia di kegiatan seminar dan bedah buku yang sudah aku jelaskan di awal, disitulah saat-saat ketenangan jiwaku terbuktikan, doa ku serasa di ijabah dan aku merasa ada Allah menemaniku dan tetap berada di sampingku selalu, senantiasa menuntun kata-kata ku sehingga tanpa kusadari, banyak apresiasi yang muncul dari peserta di bawah yang menyaksikan aku berbicara di atas panggung dengan mic yang mengeluarkan suara lantang dan keras.

Apresiasi itu dibuktikan dengan hadirnya tepuk tangan yang beriringan dengan kalimat-kalimat yang mungkin “baru” ia dengar dari mulutku. Para peserta yang berjumlah ratusan orang itu seketika tersenyum dan terbawa emosi yang aku bangun. Sampai-sampai setelah aku turun, aku dibilangi oleh salah seorang narasumber bahwa, anak ini begitu semangat dan senantiasa mendengar kata-kata orangtuanya.

Memang sebelum aku naik ke mimbar untuk membacakan laporan itu, aku sempat berbicara dengan ibuku melalui telepon. Ia mengatakan “Galang, ketika kamu bicara nanti, jangan lupa ucapkan selamat ulang tahun kepada ayahmu. Karena hari ini ayahmu lagi ulang tahun,” setelah mendengar perkataan ibuku itu, hatiku langsung tersentak, karena sebelumnya aku lupa bahwa hari itu adalah hari ulang tahun ayahku. Dan baru aku ingat saat itu behwa benar, ayahku yang lahir pada tanggal 5 Mei 1971 silam, kini Ia sudah berusia 44 tahun.

Sang pemateri pun dalam beberapa sesi memanggilku untuk naik ke atas panggung untuk memberikan apresiasinya. Aku mendapatkan buku dari Asma Nadia, ketika sebelumnya aku bercakap empat mata di atas panggung. Dan Aku masih ingat persis kata-katanya, “apakah benar, ayahmu lagi ulang tahun ?,” tanyanya. maka kujawab dengan singkat, “Iye’”. Kemudian ia kembali bertanya, saat sementara menandatangani bukunya, “siapa nama kamu?”, langsung aku jawab dengan perlahan dan penuh keyakinan, (namaku) “Muhammad Galang Pratama.”

Kemudian aku pergi, ke belakang panggung tempat aku untuk berlatih dan bersiap-siap untuk membacakan puisi dari pemateri kedua, Bapak Edi Sutarto.

***

Awalnya aku juga heran mengapa aku yang dipanggil oleh teman-teman dari Forum Lingkar Pena (FLP) untuk membacakan puisi. Apakah karena di akhir laporan panitia ku tadi aku sempat berpuisi dan mengeluarkan kata-kata indah yang ku persembahkan kepada ayahku, entahlah. Aku hanya langsung menjawab panggilannya.

Setiba aku dikamar ganti, tepat di belakang panggung, aku langsung diberi puisi untuk aku pelajari dalam waktu kurang dari 20 menit, segera aku cermati, aku hayati untuk aku baca nantinya.

Ketika waktu untuk membaca puisi itu tiba, aku bersama satu orang teman untuk bersama-sama membaca puisi yang diberikan kepada kami. Satu per satu puisi itu dibacakan, untuk yang pertama, temanku dahulu membaca puisi yang diberikan kepadanya, baru setelah itu aku lanjut yang membacakan puisi dari Pak Edi Sutarto itu.

Ku pegang kertas itu di tangan kiriku, mic ku letakkan di tangan kanan ku kemudian kubaca puisi itu dengan lantang, “BENCANA NASIONAL, Karya Edi Sutarto........”, setelah aku membacanya, riuk tepuk tangan menyelinap di dinding gedung menyirami sepi yang sebelumnya hinggap di ruang hampa itu ketika hanya suaraku yang terdengar.

Setelah membacanya, aku lalu disambut oleh sang guru yang sebagai pemateri itu, yakni Pak Edi Sutarto, memberikan hadiah satu buah buku hasil tulisannya. Dan buku itu yang sejak dahulu aku inginkan, judul bukunya ialah, “Pemimpin Cinta”, dan kini telah ada ditanganku. Lalu kuucapkan “Alahamdulillah” dalam relung hatiku terdalam, pertanda syukurku kepada Allah dan ku ucapkan terima kasih kepada orang yang telah memberikannya kepada ku.

***

Setelah aku turun untuk mendengar materi dari sang narasumber, hingga pada akhir materi, aku kembali di panggil oleh Asma Nadia, ia mengatakan “aku ingin memberikan hadiah, sebuah buku kepada Muhammad, karena telah menjadi anak yang mendengar”, kemudian matanya menatap mataku. Maka kubalas tatapan rindu itu dengan senyuman dan langsung ia memanggilku untuk naik kembali ke atas panggung, kemudian aku ingin diberikan bukunya yang berjudul mengejar mimpi, dll, namun ternyata buku itu tidak dibawa oleh menejernya, akan tetapi ia memberikan buku Pemimpin Cinta, kemudian ia langsung yang menandatanganinya, bersama penulisnya, kemudia Asma Nadia mengatakan “sampaikan salamku kepada Ayahmu, ini hadiah ulang tahunnya”, seraya meyodorkan buku itu. Saat itu, aku langsung berterima kasih kepada mereka, seorang manusia yang boleh aku sebut sebagai manusia luar biasa.

Dan saat inipun aku masih ingin berterima kasih lagi kepada meraka semua. Aku yakin mereka sebagai orang titipan Allah yang telah menjadi perantara atas rezeki yang diberikan oleh Allah buatku. Alahamdulillah, terima kasih Ya Allah, dan terima kasih kepada Asma Nadia dan Edi Sutarto. Jadilah engkau orang-orang sebagai penghuni surga-Nya kelak dan menjadi teladan di dunia untuk seluruh umat manusia. Aamiin, allahumma aamiin.

****

Muhammad Galang Pratama (MgP)

Samata, Gowa, 6 Mei 2015.

Reaksi:

About Author

Advertisement

Post a Comment

Popular Posts

 
Top