• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • Instagram
  • Youtube

About me

Let me introduce myself


A bit about me

Memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ada yang memvonisnya sebagai "klandestin".

Menyukai gadis yang baik hati, senang membaca, menulis dan berbagi senyum.

Profile

M. Galang Pratama

Personal info

From Gowa, South Sulawesi, Indonesia. like "poems" wanna be a wind.

Birthday: 28 Nov 1995
Born: Palu, Indonesia
Website: mgalangpratama.id
E-mail: 3nphimgp@gmail.com

RESUME

Know more about my past


Employment

  • 2015-future

    Mutation Media @ Web Developer

    Menyediakan jasa pembuatan dan perbaikan tampilan website. Baik untuk pribadi maupun kelompok. Baik web yang berisi tentang pendidikan, budaya, atau pun bisnis.

  • 2013-2017

    Administrator @ Exclusive Admin

    Selain hadir di sekitar Anda, ia juga hadir di beberapa media online. Seperti hapeka.blogspot.com. Jurnalish.com, koranmgp.blogspot.com, dan blog yang lain.

  • 2009-2011

    Newspaper @ Author

    Buku solo pertamanya bertajuk The Poetic Critique: Kumpulan Puisi (2015), buku ke duanya ditulis bersama Ainun Jariah berjudul Senandung Rindu (2015), ke tiga adalah hasil juara 1 lomba menulis puisi yang terpilih dari 2000-an lebih puisi se-Indonesia, yang kemudian dibukukan dengan judul Ketika Senja Mulai Redup (2016), terakhir, ia sedang mencari penerbit untuk buku puisi solo terbarunya (2017-2018) Nantikan.

Education

  • 2015

    University of Justice @ 2017

    Menjalani kuliah di bidang hukum. Spesialis di hukum pidana Islam. Kini sedang menyusun skripsi tentang pembunuhan anak-anak.

  • 2013-2017

    College @ 2013

    Bersekolah di salah satu kampus milik negara di Makassar, Sulawesi-Selatan.

  • 2009-2013

    Life's University @ graduating

    Bersproses di TK, SD, MTs, SMA, hingga ke PT dan sepertinya dia tidak akan pernah diwisuda. Sebab bagi dirinya, universitas adalah hidup ini.

Skills & Things about me

photographer
25%
candid & editing
Writing
25%
Author
Note
50%
wordpress/Blogger

Portepel

Latest projects


Friday, 16 June 2017

Ranjang Burung

Foto : Arsip Pribadi
SAYA sengaja memberi judul di atas dengan dua kata yang dapat menimbulkan konotasi ganda. Jika saya menuliskan kata "ranjang" dan "burung", apa yang langsung tergambarkan di pikiran Anda?

***
Nah, itulah realitas media kita dewasa ini. Banyak media yang bertebaran sekarang ini terutama media sosial, demi mengejar rating pengunjung portalnya, memasang judul berita yang dianggap wow atau yang berbau SARA.

Itulah mengapa berita hoaks mudah sekali tersebar di alat komunikasi di samping kita. Sebab, kita diperhadapkan pada kondisi miskin proses penyaringan berita. Kita dengan mudahnya percaya pada satu berita yang kebenarannya belum diuji.

Kembali pada peristiwa akhir-akhir ini. Berita di jagad maya, sedang heboh-hebohnya memuat konten berbau SARA. Apa sih itu SARA? SARA adalah kependekan dari Suku, Agama, Ras dan Antargolongan. 

Singkatnya, untuk menjauhkan masyarakat pada nilai-nilai Pancasila, kita dibenturkan pada hal-hal berbau SARA itu. Nah!

Dalam kegiatan FLASH BLOGGING yang diadakan oleh Kominfo RI di Grand Clarion, Makassar pada hari Jumat, 16 Juni 2017 ini saya mengutarakan isi pikiran sedikit namun padat kepada para juri dan para pembaca blog saya, bahwa nilai-nilai pancasila yang diambil dari lima asas atau sila, merupakan pengejewantahan dari nilai-nilai yang berkembang di masyarakat kita sejak dulu.

Seperti yang diutarakan salah satu pemateri dalam kegiatan ini dari Tim Informasi Presiden bernama Heri Susanto, yang penting adalah kerjasama dan gotong royong harus selalu dipupuk. 

Nah, terakhir saya ingin bilang, jangan percaya media yang dari judul berita atau kontennya menggunakan kata-kata seperti pada judul tulisan ini. Karena yakinlah, isinya hanya untuk menaikkan rating media itu saja tanpa memberikan informasi kepada pembaca.

Nilai pancasila, adalah bagaimana kita bermedia sosial dengan santun, menghargai sesama tanpa adanya sekat seperti Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Sekian.


Muh. Galang Pratama
Makassar, 16 Juni 2017

Thursday, 15 June 2017

Baca Puisi on Radio

Saya belum pernah membacakan puisi saya secara langsung di radio. Ini ON AIR, dan pengalaman pertama itu terjadi hari Kamis malam, 15 Juni 2017. Saya mendapat undangan dari Pak Rusdin Tompo, melalui pesan di fb.

Saya membacakan beberapa puisi saya di stasin Radio RRI Makassar, bersama para pembaca puisi muda yang luar biasa. Dan saya sadar pada diri saya saat itu juga, saya harus memperbaiki tulisan tulisan saya. Terutama tulisan untuk dibacakan. Soalnya baru tahu, kalau tulisan yang dibacakan dengan bersuara itu berbeda dengan tulisan yang dibacakan di dalam hati. Itu saja sih.

Source : https://ichef.bbci.co.uk

Saturday, 10 June 2017

Wajar Saja, Hari Ini Aku Tak Menulis Puisi

Aku dipaksa menulis yang bukan Puisi hari ini. Setiap hari, aku mencoba meluangkan waktu duduk berjam jam di depan laptop. Memandangi buku buku, kadang membukanya. Tapi, tak mudah untuk menuliskan sebagian isinya untuk dipindahkan ke dalam tulisan di dalam laptop. 

Aku selalu berpikir, kapan selesainya tulisan ini jika dilakukan dengan cara tidak fokus? Itulah perasaan yang selalu datang menghantui. Apalagi melihat beberapa teman sudah menyelesaikan tulisannya. Aku sedikit iri, sebenarnya. Masa' mereka bisa, aku tidak?!

Maka, aku secara perlahan mencoba menyelesaikan halaman demi halaman saja. Tapi, sungguh aku tidak bisa! Aku kaku. Lebih tepatnya, malas. Aku selalu berpikir, dapat menyelesaikan tulisan itu seharian penuh atau rampung dalam sepekan, dengan catatan: terus menulis. Tapi, aku pun belum merealisasikannya.

Nah, dalam kebingunganku ini. Yang (tentu saja) tidak penting bagimu, aku jadi tidak menulis Puisi, seperti biasanya. Kadang aku cuma membuka akun media sosial. Lalu memosting tulisan-tulisan pendek. Ya, semoga saja, akan datang keinginan dalam hati secara serius untuk menyelesaikan satu tulisan ini. Sebab, jika ini sudah selesai, aku akan kembali menulis Puisi lagi. Yakin saja.

Tunggu ya, aku sedang mencoba berkhalwat.

MgP
Source : http://payload426.cargocollective.com

Tuesday, 6 June 2017

Mengikatkan Budaya Pada Anak anak

Hampir saja saya lupa menulis. Sesuatu di dalam kepala jika tak dituliskan akan berefek jadi susah tidur. Bukan susah move on ya. Kamu sih, dikit dikit, baper. Simpan dulu perasaannya gaes, jangan dibawa terus!

Oke untunglah, meski saya harus aktif di beberapa dunia, dunia fesbuk, dunia instagram, dunia twitter, dunia linkedIn, dunia blog dan dunia nyata yang tak berkesudahan memberi masalah, saya masih ingin meluangkan waktu untuk menulis. Meski sedikit saja.

Ide yang ingin saya tuliskan malam ini terinspirasi dari ceramah yang dibawakan oleh Camat Somba Opu, di masjid dekat rumahku, pada malam ke sebelas ramadan, 6 Juni 2017. Ya, tepat, kemarin.

Namanya Pak Subair, Camat baru di Somba Opu Kabupaten Gowa. Ia berpesan kepada masyarakat bahwa, saat ini yang penting adalah memperkenalkan kembali budaya yang kita miliki kepada anak anak. Ya, tentu ini adalah hal penting. Mengapa ini penting? Sebab, budaya daerah kita mulai hilang, perlahan demi perlahan. Kira kira begitu maksud ucapannya.

Kita selaku orang dewasa, beh maksud saya, sebagai pemuda, yang pernahmendapat pendidikan karakter budaya langsung dari orang tua sewaktu kecil dan juga pelajaran dari guru sekolah dasar, harusnya mengeksplorasi ilmu itu lalu mengajarkan kepada anak anak di zaman ini. Seperti contohnya. Budaya tabe' atau mappatabe' (permisi).  Budaya menurunkan tangan sebelah ketika lewat di hadapan orang yang lebih tua dari kita ini, pelan pelan mulai tidak dipraktekkan lagi di lingkungan anak anak. Wah wajar, mereka sudah hilang contoh!

Selanjutnya, budaya apalagi yang mesti deberdayakan selain seperti contoh di atas?
Temukanlah.

Source : http://bucultureshock.com

Friday, 2 June 2017

Butthu

Aku butuh kekasih
yang baik ahti (dak)


Sajak Gatal

Mataku gatal
Aku ingin
Menggaruk garuk hatiku


Wednesday, 24 May 2017

yang terempas


aku teringat masa kecil
ketika pas bangun dini hari, ada tangan ibu yang membelai
saban pagi atau barangkali sore hari, aku sedikit lupa waktu persisnya yang mana, 
tersedia air beras untuk kucicipi, ibuku pernah mengatakan itu. 
dan tetanggaku juga bilang begitu
sesuatu
-yang mengalir dari bibirku hingga merasuk ke dalam hati.

aku mengingat masa kecilku
setiap nasihat yang diucap ibu dan ayahku, 
ibuku selalu bilang jadilah anak soleh yang 
berbakti pada ke dua orang tua. ayahku juga
menambahkan, nak, jadilah "orang". ayah 
selalu bangga pada anaknya yang selalu meraih prestasi.

baru kusadari
-yang membuatku tumbuh hingga kini adalah

karena
usaha dari kerja keras mereka
yang tulus dalam mencari rezeki halal
buat keluarga kecil kami.

kini
kutemukan album foto keluarga kecil kami di rumah nenek, 
waktu kecil dulu, aku tinggal di rumah orang tua ibuku yang kini sudah tiada.
kulihat kembali album yang sedikit berdebu,
kukibas dengan tangan kananku sambil meniup debu itu
kudapati foto ibu dan ayah sejak masih kuliah dulu
aku tersenyum kecut

sebab saat itu, aku tengah berjuang menggapai tangan 
pengasuh yang kukira adalah ibu,

aku rindu saat itu, ibu, aku selalu bermimpi
bisa menyambut ibu yang baru datang dari kota yang jauh.

cukup. sebetulnya aku hanya
ingin bilang,

Foto Ibu dan Ayah ketika meraih gelar sarjana di Untad, '98
aku masih menyimpan memori tentangmu
bukan hanya kenangan indah, tapi semua kenangan 
seperti saat ibu tengah menangis karena ayah
dan memori ketika ayah yang tengah berjuang 
mengantar ibu ke rumah sakit saat ibu sedang terkena 
asma di tengah malam yang tiada lagi suara suara 
selain lolongan binatang.

ibu, aku ingin tanya,
ibu baik baik saja sekarang?
ayah juga sehat, kan?

ibu dan ayah, rukun ya..
aku sudah hampir sarjana!
lihat aku memakai toga, ya..

aku cemburu, melihat temanku, Bu, Yah.. 
yang baru saja meraih gelarnya, hari ini.

25/05/17


Friday, 19 May 2017

TANPAMU,




Malam makin gelap

Kau belum juga pulang

Hidupku tanpamu gagap

Aku ingin kau di sini, sayang



Kepergianmu adalah luka

Yang harus kututupi dengan puisi

Aku hanya tinggal begini meski sia sia jadinya



Kutunggu kau meski sulit sekali.

Malam, 7/05/2017

Source : https://sdl-stickershop.line.naver.jp

Dikecewakan

"Di kecewakan," katamu. "Sudah sering," lanjutmu kau bilang, "Tapi, satu-satunya alasan aku untuk tetap berteman baik denganya adalah dengan mengingat kebaikannya."
"Terlalu banyak kebaikan yang telah ia sumbangkan dalam perjalanku, " tulismu "Meski tak bisa ku pungkiri. Semua kebaikan itu perlahan-lahan terkikis dan ia mulai menjelma menjadi sosok yang menyebalkan."

Seketika aku tersenyum membaca satu kata terakhir di atas. Engkau memang berpikir demikian terhadapku. Sebab belum menemui alasan terbesarku berubah.

Nantikan sajalah, akhirnya.

Sekian. Aku ingin mengangkat teleponmu dulu. 
Tapi, sudah mati. Meneleponlah kembali! :)

Source : https://cliparts.zone/img/897246.png

Monday, 15 May 2017

Ban Bocor dan Hari yang Mahal



PUKUL tiga sore pada Senin 15 Mei 2017, aku menyelesaikan tugas wajib kuliah yang tidak kelar kelar sejak 12 April silam. Aku memang demikian, malas mengerjakan tulisan ilmiah seperti skripsi. Draf yang sudah empat minggu lebih, akhirnya di-Acc oleh pembimbing satu, hari ini, tanpa melalui proses penyuntingan panjang. Barangkali kamu menyebutnya dengan istilah "pantul." (Entah dari mana istilah itu berasal; pantul bermakna corat coret yang diberikan oleh pembimbing).

Bukan hal mudah untuk hari ini. Awalnya aku merasa pesimis. Bagaimana tidak, sudah pukul sebelas siang, di hari yang sama, aku baru memulai memperbaiki draf itu. Lalu selesai pukul dua siang. Kemudian aku memperbaiki printer, selama kurang lebih dua jam (maklum nggak punya duit buat nge-print tugas di warnet atau tempat fotokopi, jadi printer yang sedang rusak mau tidak mau harus diperbaiki).

Setelah berusaha, dan akhirnya bisa, meski harus di-high printer-nya. Selanjutnya saat sedang asyik nge-print, di halaman 16. Eh, kertasnya malah habis!

Lalu saya cari jalan buat dapatkan kertas.

Ke tetangga, tidak berhasil.

Cari duit di kantong celana di kamar, akhirnya nemuin tiga ribu rupiah. 

Pukul tiga sore, sedang hujan rintik rintik.

Menuju tempat fotokopi, antri lagi. Setelah dapat kertasnya, balik deh ke rumah.

Lalu kertas dimasukkan ke ruang kertas di printer. Dilanjutkanlah prosesnya.

Mencetak berjalan dengan baik. Tiba tiba...

Tiba tiba...

Setelah usai di-print, pada halaman dua puluh tiga. Eh, nemu kesalahan (lebih tepatnya ada kata yang kurang pada judul yang terletak di halaman satu).

Kembali ingin memperbaiki halaman satu,

Malam mati lampu, segala.

Oh Tuhan (kucinta dia).. :D :D.

Jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh. Setelah salat ashar, aku langsung tinggalkan laptop dan listrik padam. Sebelum pergi, eh lampunya udah nyala. Aku tetap meninggalkannya. (Barangkali begitulah mantan, kalau dia udah bilang putus, lalu ingin kembali lagi, serius, aku itu akan menganggapnya seperti listrik. Titik, tinggalkan).

Hujan di luar belumjuga  reda. Tapi aku harus ke kampus, meski tak kuyakin pembimbingku masih ada di kampus. Karena sudah hampir pukul empat sore. Perjalanan pun dimulai, dengan sendal jepit. Sepatu disimpan di dalam bagasi motor, jas hujan hitam pun sudah kukenakan dengan baik.

Tiba di kampus, hujan sudah agak reda.

Aku lalu membuka jas hujan, dan tak lupa kuambil dua buah buku dari dalam bagasi motor yang sejak tadi kubawa untuk kukembalikan di perpustakaan fakultas. Tak lupa, kubawa draf, barangkali aku ketemu dengan dosen pembimbingku, kan..

Ke lantai tiga dulu. Ya, kamu harus ingat, tadi saya kan ke kampus pakai sendal, jadi sepatunya di bagasi motor itu? Tentu, sudah kuganti sebelum masuk ke pintu belakang fakultas. Masa' iya aku kelihatan nggak rapi di depan dosen. :P

Lanjut, aku ke lantai tiga, ruangan perpus. Dan... si*l, pintunya udah tutup! 

Besok pasti aku kena denda, pikirku. Hah. biarlah, santai aja. Hh.

Lalu ke ruang jurusan, turun satu tangga. Masuk ke ruang jurusan, tengak tengok. Dan..

Ketemulah aku dengan pembimbing satuku yang rupanya belum pulang. Tapi sebenarnya sudah siap siap sih untuk pulang. Aku segera memperlihatkan drafku. Kukatakan bahwa ini draf sudah kuperbaiki dengan matang, kutambahi ayat alquran, kutambahi referensi buku, kuatur jarak spasi antar baris. Serta coretan pada saat seminar draf tanggal 12 April itu.

Ya, ada satu yang berbeda. Ini kali pertamaku membawa draf ke pembimbing, sejak seminar telah kulaksanakan. Dan apa yang kudapat?

Acc.

Dosenku segera menulis catatan di halaman pertama drafku, 

"Acc. Dapat dilanjutkan, 15/5/2017."

"Yes," gumamku dalam hati.

Akhirnya aku tidak sia sia ke kampus, pikirku lagi.

Tapi..

Pas tiba di motor, mau pulang, kulihat ban motorku. Dan yah.. aku menemukan ada satu paku kecil yang tertancap di sana.

                                            

Sebelum kucabut, tak lupa aku mengabadikannya. Tujuannya? Ya, buat dokumentasi. Sebenarnya dari sinilah ide untuk menuliskan catatan sederhana ini. Aku ingin membuat dokumentasi gambarnya agar kamu bisa percaya, bahwa aku yang tengah berusaha sebaik mungkin ke kampus, harus menemui banyak cobaan.

Ya, setelah itu pakunya aku cabut. Dan kupakailah motor hingga pulang ke rumah. Dalam keadaan kempes, tentunya. Aku pikir, di dekat rumah (jarak kampus ke rumahku, sekitar 15 menit perjalanan naik motor), ada tukang tambal ban yang bayarannya cukup dengan isi kantongku. H.h. (kamu pasti pikir jumlah duitku, kan.. ayo jujur.. )

Setalh itu aku pulang, dan tiba di bengkel. Aku harus mengeluarkan duit 35 ribu.

(Jangan tanyakan darimana asal duit itu) 

Ngutang!


Ya, lumayan mahal untuk hari ini. Sekian sajalah!

Motor yang Kotor :-D



Thursday, 4 May 2017

Bahkan Saya Lebih Banyak Diam

Sejak kecil, saya orangnya suka diam. Suka hening. Senyap. Dan bisu.

Hentakan yang bertubi tubi datang, membuat saya menjadi seseorang yang pendiam. Ya, itulah yang membuat saya hingga kini sesungguhnya lebih senang menyendiri. Terutama pada malam malam hari, di saat semuanya sedang terlelap.

Saya berusaha sebaik mungkin untuk menuliskan apa yang saya pikirkan di setiap malam. Namun, selalu saja saya gagal merealisasikan hal itu. Saya memang pemalas!

Hari semakin menua. Usiaku pun demikian. Menginjak usia 21 tahun menuju angka genap 22 tahun ini, menjadi batu loncatan tersendiri buatku untuk dapat meraih apa yang selama empat tahun ini saya perjuangkan (hah, saya perjuangkan? :)). Ya, akademik. Tentu itulah satu satunya harapan dari orangtuaku saat ini.

Aku selalu sedih, jika harus sibuk mengerjakan sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu penting selain menulis. Waktuku sungguh habis terutama dalam hal seperti berada lama di atas kendaraan (motor) atau menerima telepon dari orang orang yang tidak terlalu penting (selain kamu,ya). Kuakui, sungguh lebih baik jika saya menulis!

Kini, usahaku belum terlalu matang untuk mencapai tujuan. Saya selalu bingung. Hari ini adalah jembatan menuju hari esok. Esok tak akan sama dengan hari saat ini. Sebentar lagi dunia akan berubah. Mengubah wajahnya yang tampak kusam. Dan saya?

Apakah masih seperti ini?

Menjadi stalker sejati (?) Sungguh perbuatan yang sedikit sekali manfaatnya. Yang sedikit itu hanyalah agar saya bisa (setidaknya) memotivasi diri sendiri untuk menjadi lebih baik dari orang lain.

Sekian.

M Galang Pratama
Source : http://vignette1.wikia.nocookie.net/silencegame/images


Monday, 1 May 2017

Terjepit di Negeri Sendiri

Saya terlalu sedih jika harus percaya apa yang diberitakan media hari ini.

Hanya membaca dari layar kaca dan dari secarik kertas koran, pikiran tiba tiba melambung jauh. Memikirkan negara yang sedang kacau. Karena telah dijadikan arena balap kuda. Mengukur kehebatan joki dalam menunggangi kuda. Negara adalah kuda. Dan negara lain adalah penonton yang menyaksikan langsung pertandingan pacu kuda ini.

Saya tidak takut menulis jika itu adalah benar. Benar jika memang seorang Dahlan Iskan divonis penjara dua tahun. Sedang Gubernur (DKI) Jakarta, BTP, divonis satu tahun penjara dengan dua tahun masa percobaan.

Itu artinya BTP baru dihukum selama satu tahun kurungan jika dalam tempo dua tahun ini dia mengulangi kesalahannya (atau kembali melakukan kesalahan yang meresahkan masyarakat). Nah kalau dalam waktu dua tahun dia berbuat baik saja, tentu hukuman tak dapat dikenakan padanya. 

Dalam hal ini sepertinya kita dapat membaca, ada oknum yang sengaja membumikan kasus kasus yang melahirkan simbol tragedi "tiga deret angka" itu. Dan oknum ini berhasil. Lalu yang dijadikan objek sebetulnya sudah masuk dalam permainan itu sendiri kini kemudian bersama sama merayakan hasil permainan dengan tertawa bersama. 

Masyarakat biasa yang hobi menonton layar kaca hanya bisa bersuara palsu. Dan yang mengkritisinya lewat gagasan gagasan di koran koran cetak atau media daring, tak pernah dibaca. Hanya ditunjuk tunjuk lalu dilempari kata kata beranak binatang.

Di sini saya tidak mau menyinggung soal teori apa pun dalam hal supaya mau dikata agar tulisan bernilai ilmiah. Saya tak suka teori. Sebab selalu saja teori itu hanya kamuflase dari pikiran. Kenyataan seringkali bertolak arti dengan teori. Meskipun memang teori tak sepenuhnya dapat disalahkan. Karena teori selalu punya dua mata. Ada yang mendukung ada juga yang berlainan pandang.

Saat ini orang orang disibuki dengan diskusi diskusi tentang politik kenegaraan. Diskusi itu telah masuk ke lorong lorong kecil sebuah perkampungan warga. Bahkan kata mereka yang punya ilmu, "hukum tak boleh disandingkan dengan politik" sungguh itu hanyalah omongan kosong semata. 

Di saat yang seharusnya tenang menghadapi masyarakat, kini yang ada di lembaga peradilan masih tetap takut dan merasa was was jika personil polisi datang menghampiri markasnya.

Dan siapa pun pejabat yang kerja di bawah naungan kenegaraan, akan selalu dipaksa untuk tunduk pada atasan, meski kadang harus meninggalkan kata hati sendiri. Menyikut kawan dan menginjak bawahan.

Masyarakat kita sengaja didesain untuk menjadi jiwa jiwa apatis. Penuh dengan keragu raguan di hatinya. Menjadikannya mudah menyalahkan. Serta tak lagi memerhatikan hal hal kecil yang terjadi di keseharian.

Kita tak lagi memandang kehidupan sederhana sebagai prioritas utama. Seperti bermain dan bercengkerama dengan teman, sahabat, keluarga atau tetangga. Sudah kurang pula acara yang benar benar acara. Misalkan makan bersama diikuti dengan pembicaraan hangat. Dan hal lain yang berhubungan dengan menjaga alam. 

Kita disibuki teknologi yang ada di tangan kita saat ini. Seakan akan benda kecil ini menjadi pengalihan jika kita tak tahu harus berbuat apa atau harus berkata apa. 

Dan pada akhirnya, boleh dipastikan jika desa desa sudah diracuni virus kota. Pesantren pesantren sudah melebihkan paham keduniaan. Sebentar lagi, dua puluh tiga puluh tahun yang akan datang, kita sudah berada di antara puing puing negara yang dulu adijaya. Kita akan mengungsi di negeri kita sendiri. Indonesia yang kita cintai ini, akan diambil alih oleh penjajah yang sudah lama berada di belakang layar pada setiap permasalahan yang terjadi di negara ini.

*Tulisan ini sebelumnya sudah diposting di laman Facebook pada 26 April 2017 dengan judul Mengungsi di Negeri Sendiri.



Source : https://onraceandracism.files.wordpress.com/2014/12/pinned.png

Services

What can I do


Branding

Selain dapat bernyanyi dengan suara fals dan memainkan gitar, ia juga dapat membuatkanmu sebuah atau beberapa puisi. Selain itu sopan santun pada orang yang lebih tua darinya tetap menjadi pegangannya sampai kapanpun.

Web Design

Menerima jasa web design, mengubah domain blog dari blogspot atau wordpress ke .com, .id, dan layanan editing blog/web lainnya.

Graphic Design

Dapat mengoperasionalkan aplikasi Paint, Photoscape hingga Photoshop untuk mengedit gambar.

Development

Selain aktif blogging, kini ia dipekerjakan secara sukarela sebagai Staf IT sekaligus editor pada jurnal hukum di kampusnya, menulis puisi dan esai di media massa dan sedang mengembangkan Taman Bacaan Masyarakat bernama RAKIT (Rumah Belajar Kita) Gowa, di tempat tinggalnya.

Video Editor

Kadang mengedit video untuk dipersembahkan kepada kawan-kawannya sebagai bentuk apresiasi.

Experience

Masih muda, jadi masih nabung pengalaman.

Contact

Get in touch with me


Partner ka

Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri

Library

Address

Jl. Dahlia, Batangkaluku, Sungguminasa-Gowa, Sulawesi Selatan (92111).

Phone number/Whatsapp

(+62) 8534 380 1995

Website

mgalangpratama.id